Jumat, 24 September 2010

Tapal Batas Yang Tak Pernah Tuntas

(Arti Penting Ukhuwah Islamiyah)

Konflik perbatasan antara Indonesia dan Malaysia ternyata berdampak negatif dalam berbagai hal. Padahal perbatasan antara kedua negara tersebar dalam lima titik. Satu titik terdapat di wilayah perbatasan darat antara Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia Timur. Empat titik tapal batas yang lain terdapat di laut, yaitu Selat Malaka, Perairan Natuna, Perairan Tanjung Datu (Kalimantan Barat), dan Blok Ambalat. Selain itu masih ada permasalahan di antara kedua negara yang harus diselesaikan. Permasalahan itu adalah masalah TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang bekerja di Malaysia dan hubungan ekonomi yang timpang. Permasalahan TKI yang bekerja di Malaysia di antaranya penyiksaan, tidak mendapat gaji, urusan paspor, penahanan, pembunuhan dan bunuh diri. Hubungan ekonomi yang timpang terlihat dari ‘serbuan’ ekonomi dari Malaysia dalam bentuk investasi, khususnya perkebunan, perbankan dan infrastruktur. Sedangkan ‘serbuan’ Indonesia hanya TKI. Jika dibiarkan, hubungan yang tidak harmonis di antara kedua belah pihak akan semakin parah dan melupakan fakta sebagai bangsa yang serumpun dan merupakan negara yang penduduknya mayoritas umat Islam.
Dampak negatif yang pertama adalah masih meneruskan warisan kolonialisme. Sebagaimana diketahui, perbatasan kedua negara dibuat berdasarkan peta geografis yang diwariskan oleh penjajah. Pada waktu itu Belanda menjajah Indonesia dan Inggris menjajah Malaysia. Para penjajah tersebut membuat tiga perjanjian perbatasan, yaitu tahun 1891, 1915 dan 1918 yang berisi perjanjian perbatasan titik koordinat, lokasi dan tanda perbatasan. Memang telah terjadi perundingan perbatasan di antara Indonesia dan Malaysia secara berkesinambungan, baik ketika terjadi perubahan yang disebabkan faktor alam atau kesengajaan perusakan, maupun ketika tidak terjadi perubahan perbatasan. Sebagaimana juga sering terjadi konflik perbatasan antara kedua negara. Namun bukankah itu semua baik perundingan maupun konflik perbatasan bermakna menggunakan warisan penjajahan, khususnya berupa perjanjian 1891, 1915 dan 1918, yang seharusnya dicampakkan jauh-jauh?
Dampak negatif yang kedua adalah kehadiran para kapitalis yang sedang menancapkan dominasinya untuk menghisap kekayaan melalui harta bersama rakyat dan penjualan berbagai senjata. Seperti di Ambalat, konflik telah melemahkan kekuatan militer kedua negara. Pada saat itu para kapitalis yang menghisap kekayaan minyak bumi di situ leluasa mendominasi. Setiap usaha untuk menghentikan dominasi kapitalis tersebut, akan dibenturkan dengan kekuatan militer/angkatan laut negara lain. Para kapitalis yang melakukan penjualan senjata juga mendominasi. Konflik perbatasan mendorong kedua negara berlomba-lomba membeli senjata yang dijual para kapitalis.
Dampak negatif yang ketiga adalah konflik yang terus berulang, seolah-olah menyatakan bahwa perundingan perbatasan antara kedua negara tidak perlu dilakukan. Padahal kenyataannya, perundingan antara kedua negara telah berlangsung cukup lama. Perundingan sempat terhenti pada tahun 1963-an karena meningkatnya konfrontasi di antara kedua negara. Setelah konfrontasi mereda, perundingan perbatasan berjalan kembali. Namun, perundingan perbatasan tersebut tidak berguna sama sekali, sebab konflik perbatasan juga sering terjadi. Bahkan pada konflik perbatasan 2010, aparat Malaysia menangkap dan menahan aparat Indonesia.
Bagi masing-masing negara, konflik perbatasan juga memberikan dampak negatif. Sebagai contoh, berbagai elemen masyarakat dan individu Indonesia kurang diuntungkan. Pemerintah Indonesia menjadi sasaran kritik lawan-lawan politiknya dan tuntutan dari berbagai pihak. Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan Dewan menuntut pemerintah bersikap tegas. Dia menyatakan: ”Kita tidak perlu merasa inferior terhadap Malaysia dengan menunjukkan jati diri sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat (Solopos, Selasa, 31 Agusutus 2010).
Ketika pemerintah Indonesia mengirim surat kepada pemerintah Malaysia, dikritik sebagai cara yang tidak efektif, seharusnya tidak hanya kirim surat, tetapi bertemu langsung. Ketika hubungan keduanya untuk mengakhiri konflik terjadi setingkat menteri luar negeri, dikritik tidak menyelesaikan masalah sebab seharusnya hubungan setingkat kepala negara. Sehingga ada yang menyatakan bahwa seharusnya presiden mengambil inisiatif bertemu dengan PM Malaysia Najib Razak, bukan hanya diserahkan kepada menteri.
Demikian juga ketika presiden SBY merespon konflik yang terjadi dengan pidato di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur di mana Presiden SBY menyatakan bahwa Indonesia lebih memilih cara diplomasi daripada jalur perang dan mengajak semua pihak mejauhi sikap berlebihan, seperti aksi-aksi kekerasan, berbagai pihak mengkritik sebagai terlalu normatif dan seolah-olah inferior. Bahkan ada yang mengemukakan analisis bahwa pemerintah lebih mengedepankan aspek ekonomi seperti kestabilan ekonomi di ASEAN dan menjaga keberlangsungan hubungan TKI, investasi, pelajar, atau wisatawan.
Dampak negatif lainnya yang terjadi di Indonesia adalah konflik perbatasan memunculkan demonstrasi-demonstrasi yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Berbagai demonstrasi tersebut tidak hanya menunjukkan kegusaran kepada pemerintah Malaysia namun juga melakukan hal yang menyulut emosi dan melanggar hukum. Sebagai contoh, Pada 23 Agustus lalu sekelompok demonstran bernama Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) melakukan aksi unjuk rasa di depan Kedubes Malaysia di Jakarta dengan cara melemparkan tinja ke halaman Kedubes (Vibizdaily.Com, 26 Agustus 2010). Ada juga isu bahwa demonstran akan melakukan sweeping terhadap warga negara Malaysia di Jakarta. (Vivanews.com, 21 September 2010).
Konflik perbatasan antara Indonesia dan Malaysia juga telah dimanfaatkan pihak-pihak tertentu. Sebagai contoh, Koordinator Biro Internasional Partai Sosialis Malaysia (PSM), Choo Chon Kai, menganalisis bahwa konflik perbatasan dimanfaatkan oleh partai berkuasa di Indonesia untuk mendorong sentimen ultra-nasionalis yang akan mengalihkan perhatian orang dari persoalan sesungguhnya. (berdikari Online, 21 September 2010). Ada juga yang memanfaatkan konflik perbatasan untuk mengopinikan pergantian menteri luar negeri seiring memanaskan opini pergantian menteri. Diopinikan bahwa di antara menteri yang perlu diganti adalah menteri luar negeri, Marty Natalegawa, yang dinilai lambat merespon insiden Indonesia dan Malaysia. Bahkan dia dinilai gagal menjaga martabat Indonesia di mata internasional. Keadaan itu, yang bermula dari konflik perbatasan Indonesia-Malaysia dimanfaatkan untuk mengembangkan opini untuk mengganti menteri luar negeri.
Pihak Malaysia sendiri diperkirakan juga memanfaatkan konflik perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia untuk kepentingan mereka sendiri. PM Najib sengaja bersuara keras dalam konflik perbatasan dengan Indonesia karena popularitasnya sedang menurun baik karena keterkaitan dalam skandal pembunuhan wanita cantik asal Mongolia, Altantuya, yang bermula dari korupsi dalam perdagangan senjata, maupun karena perselisihan dengan wakil perdana menteri Muhidin Yassin. Ada juga yang memperkirakan bahwa suara keras PM Najib hanyalah sekadar meningkatkan nasionalisme rakyatnya, sebab Malaysia sedang merayakan kemerdekaan pada tanggal 31 Agustus. Selain itu konflik dan suara keras diharapkan sedikit mengalihkan perhatian masyarakat Malaysia dari ketidaksenangan terhadap pemerintah sendiri menjadi tidak senang terhadap Indonesia. Masyarakat Malaysia tidak suka kepada pemerintahnya, sebab pemerintahnya membuat kebijakan tidak populer, berupa menaikkan harga BBM. Kebijakan ini diambil karena pemerintah Malaysia sudah tidak sanggup mengatasi beban krisis finansial global. (Okezone.com, 3 September 2010).

Diperlukan Penyelesaian Yang Mendasar
Biasanya, konflik perbatasan cukup diselesaikan dengan perundingan perdamaian di antara kedua belah pihak. Namun, memperhatikan bahwa terdapat dampak negatif yang begitu banyak dan memperhatikan bahwa perundingan perdamaian tidak memberikan hasil, yang saat ini diperlukan adalah penyelesaian yang mendasar. Diharapkan penyelesaian yang mendasar ini mampu meminimalisir berbagai dampak negatif konflik perbatasan, bahkan konflik perbatasan itu sendiri hilang.
Penyelesaian yang mendasar di sini adalah meningkatkan persaudaraan di antara kedua belah pihak, baik Indonesia ataupun Malaysia. Kalau bisa persaudaraan ini diwujudkan dalam tataran perasaan, pemikiran dan sistem persaudaraan. Persaudaraan seperti ini adalah persaudaraan yang hakiki dan kuat sehingga mampu meredam konflik dan meningkatkan keinginan untuk selalu melakukan perundingan yang tidak diembel-embeli bebagai kepentingan.
Agama Islam juga memerintahkan untuk selalu melakukan peningkatan persaudaraan, yang dikenal dengan istilah ukhuwah Islamiyah. Allah SWT berfirman dalam surat al-Hujuraat 10: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, oleh karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat”. Jelas sekali bahwa Allah SWT menyatakan bahwa di antara orang Islam terdapat persaudaraan, walaupun berbeda suku bangsa, warna kulit, bahasa, dll. Oleh karena itu kalau terjadi konflik dan perselisihan, solusinya adalah perdamaian, bukan pura-pura berdamai dan bukan pula peperangan.
Bahkan di dalam hadits Rasulullah SAW diperinci bahwa ukhuwah Islamiyah memiliki makna terjaganya kehormatan, badan, jiwa dan harta. Di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian saling mendengki, mencurangi, membenci, membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah bersaudara, janganlah menzalimi, merendahkan dan mengejeknya! Takwa ada di sini--beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. Cukuplah dikatakan jelek seorang muslim itu, jika ia menghinakan saudaranya muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya. (HR. Muslim).
Bahkan ukhuwah Islamiyah bermakna saling membantu.
Di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya. Jangan mendhaliminya dan jangan memasrahkannya. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantunya. Dan barangsiapa yang memberikan jalan keluar dari kesulitan saudaranya, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan tutupi aibnya pada hari kiamat.”

Penutup
Konflik perbatasan antara Indonesia dan Malaysia semakin menyadarkan kita semua akan pentingnya ukhuwah Islamiyah. Berbagai dampak negatif konflik perbatasan dan konflik perbatasan itu sendiri dapat diatasi melalui perasaan, pemikiran dan sistem ukhuwah Islamiyah. Sebab ukhuwah Islamiyah adalah ajaran dari Allah SWT yang mengharuskan kita bersaudara secara hakiki, di mana di antara sesama umat Islam di satu sisi menjaga kehormatan, badan, jiwa dan harta dan di sisi lain saling membantu. Sedangkan ukhuwah yang lainnya selain Islam, sepertinya mengajak pada persaudaraan, namun faktanya belepotan kepentingan ekonomi, bisnis atau kekuasaan dan hakikatnya dipenuhi persaingan, perseteruan dan pertikaian. Dengan demikian yang dibutuhkan umat manusia dalam kerangka keselamatan dunia dan akhirat adalah ukhuwah Islamiy

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar